Selasa, 18 Desember 2018

Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan Dalam Menciptakan Sekolah yang Aman, Nyaman dan Mencerdaskan

Abstrack

Quality educational services becomes important when the activities are well done, planned and directed implemented in formal and non –formal education. Quality education services in school education can create a safe , comfortable and educate. The organization of schools judged from the school services to the stakeholders as customers, students, parents, school committee and the community. Therefore, the expected quality of service from the education given education units can be optimally so that the impact on output quality education


BAB I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Bila dikaitkan dengan pendidikan maka pelayanan pendidikan yang berkualitas mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan yang diberikan sekolah terhadap pelanggan. Proses pelayanan pendidikan yang berkualitas apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. Faktor-faktor dalam proses pendidikan adalah berbagai input, seperti bahan ajar, metodologi, sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya seperti kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan  lainnya serta penciptaan suasana kondusif. Sedangkan kualitas pelayanan pendidikan dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu.

Selain itu pelayanan pendidikan yang berkualitas dilaksanakan secara bertanggungjawab, karena menyangkut masa depan anak, masa depan masyarakat, dan masa depan umat manusia. Pelayanan pendidikan berkualitas menjadi penting manakala kegiatannya terlaksana dengan baik, terencana dan terarah yang dilaksanakan secara formal maupun non formal. Kegiatan pendidikan formal umumnya dilaksanakan di sekolah dan pendidikan lainnya.

Upaya memperbaiki kualitas pendidikan, seluruh sekolah tetap berpedoman kepada regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) maupun pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan. Pelayanan pendidikan yang berkualitas sudah selayaknya dinikmati oleh masyarakat. Oleh itu pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan menjadi dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas. Standar Nasional pendidikan bertujuan menjamin kualitas pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Data yang ditunjukkan Balitbang (2013), kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.
Dari dasar pemikiran tersebut maka pelayanan pendidikan yang berkualitas dapat menciptakan pendidikan di sekolah yang aman, nyaman dan mencerdaskan. Seperti diketahui bahwa pendidikan yang aman, nyaman dan mencerdaskan, ciri-ciri tersebut di antaranya adalah;
  1. Pendidikan yang bebas dari rasa takut
  2. Kondusif untuk belajar dan hubungan antar komponen penyelenggara pendidikan  positif
  3. Lingkungan fisik kegiatan pendidikan (gedung, kelas, halaman) sekolah yang bersih dan sehat 
  4. Atmosfir yang kondusif
  5. Lingkungan keseluruhan secara sosial dan emosional satuan pendidikan juga harus diciptakan secara positif
  6. Hubungan atau keterikatan antar warga satuan pendidikan
  7. Interaksi antar warga satuan pendidikan
  8. Rasa saling mempercayai dan saling menghargai antar komponen pendidikan
  9. Memiliki komitmen yang mendalam dalam menciptakan dan menjaga tempat penyelenggaraan pendidikan
  10. Implementasi pengembangan kurikulum yang terintegrasi dengan lingkungan
Hanya saja saat ini masalah pelayanan menjadi pembicaraan masyarakat luas selaku konsumen yang beranggapan bahwa pelayanan pada semua sektor baik lembaga pemerintah maupun swasta sama saja bentuknya yang tidak mencerminkan kesantunan. Pelayanan buruk kerap diterima masyarakat sebagai konsumen sehingga mereka sangat dirugikan. Kondisi ini juga terjadi pada pelayanan pendidikan di Indonesia secara umum. Menyikapi hal tersebut, maka perlu dilakukan peningkatan kualitas agar masyarakat sebagai konsumen yang dilayani merasa puas. Permasalah di atas tentunya menuntut para pemimpin pendidikan, salah yang memiliki tanggungjawab untuk memajukan pendidikan dengan kinerja tinggi melalui kepemimpinan yang efektif, visioner, inovatif den kfreatif sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.


BAB II. PEMBAHASAN


A.    Kualitas Pelayanan Pendidikan

Besterfield, et al.[1] menyatakan pengertian kualitas dalam konteks sederhana yaitu, “ degree of excellence a product or service provides”. Kualitas merupakan tingkatkeunggulansuatu produk ataupenyediaan layanan. Maknanya bahwa kualitas menunjukkan kelebihan dalam hal layanan individu atau institusi dan produk yang dihasilkan untuk orang lain.Sallis,[2] menjelaskan pengertian kualitas, “quality can be defined as that wich satisfies and exceed customers’ needs and wants. Kualitas dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Pengertian tersebut mengandung arti bahwa seseorang atau lembaga sebagai produsen baik barang maupun jasa semestinya memberikan kepuasan dan keinginan para konsumennya.

Menurut Parasuraman[3] bahwa konsep kualitas yang diharapkan dan dirasakan ditentukan oleh kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan tersebut terdiri dari daya tanggap, jaminan, bukti fisik, empati dan keandalan. Selain itu, layanan yang diharapkan sangat dipengaruhi oleh berbagai persepsi komunikasi dari mulut ke mulut, kebutuhan pribadi, pengalaman masa lalu dan komunikasi eksternal, persepsi inilah yang memengaruhi layanan yang diharapkan (Ep = Expectation) dan layanan yang dirasakan (Pp = Perception) yang membentuk adanya konsep kualitas layanan.

Terkait dengan pendidikan maka kualitas pelayanan pendidikan memiliki banyak elemen subyektif yang ada di dalam pelayanan jasa. Elemen tersebut adalah :
  1. Jasa biasanya melibatkan kontak langsung antara produsen dan pemakai, maka akan terjalin hubungan  erat antara pelanggan dan pemberi jasa, kualitas  interaksi ditentukan oleh pelanggan, sedangkan kualitas jasa ditentukan oleh pemberi jasa dan pelanggan.
  2. Waktu merupakan elemen penting dari kualitas jasa yaitu waktu pertemuan yang terjadwal dengan baik dan sistimatik memberi bobot terhadap kualitas jasa.
  3. Jasa tidak dapat diperbaiki, karenanya tekanan yang buruk pada saat penyajian tidak dapat diperbaiki, untuk alasan itu diperlukan standar jasa yang diberikan yaitu prosesnya sejak awal sampai diakhiri setiap waktuadalah benar dan baik.
  4. Jasa adalah produk yang tidak berwujud(intangibel), karena itu sulit menjelaskan bagi para pelanggan potensial secara tepat dan juga sulit menjelaskan apa yang diinginkan pelanggan dari jasa yang diberikan karena jasa memfokuskan pada proses bukan pada produk. Dalam hal ini yang penting adalah bagaimana produk jasa itu dapat diterima, bukan apa produk (jasa) yang diberikan.[4]
Terkait hal di atas, menurut Sagala[5] kualitas dalam pelayanan pendidikan bukanlah barang akan tetapi pelayanan, di mana kualitas harus dapat memenuhi kebutuhan, harapan dan keinginan semua pihak/pemakai dengan fokus utamanya terletak pada peserta didik. Kualitas pelayanan pendidikan berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia. Jadi dapat disimpulkan kualitas layanan pendidikan merupakan penyelenggara pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan masalah yang dihadapi konsumen pendidikan melalui sistem layanan prima yang mengedepankan keandalan, kredibilitas, kehormatan dan komunikasi yang baik.
Pelanggan yang merupakan sasaran kegiatan sekolah disebut stakeholder. Sagala[6] membedakan stakeholders sekolah yaitu :

Tabel 1 Stakeholders Internal dan Eksternal Sekolah



Pada konteks pendidikan, kualitas layanan mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" termasuk bahan ajar, metodologi, sarana sekolah, dukungan administrasi dan prasarana, dan sumber daya lain serta penciptaan suasana yang kondusif. Pada "hasil belajar" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada kurun waktu tertentu. Ini dapat berupa hasil tes kemampuan akademis, prestasi di bidang olah raga, seni atau kemampuan yang lain, suasana disiplin, keakraban, kekeluargaan, kenyamanan, dan kebersihan.

B.    Kondisi Saat Ini Dan Yang Diharapkan

Kondisi umum saat ini kualitas pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan masih rendah, hal tersebut berdasarkan data dan informasi masih adanya kepala sekolah yang belum bisa memberikan bimbingan terhadap para guru, kurang efektifnya komunikasi kepala sekolah yang pada orang tua siswa yang terkadang sering terjadi komplain dari orang tua siswa, dan juga pelayanan pembelajaran yang diberikan guru terhadap para siswa belum optimal. Oleh karena itu diharapkan kualitas layanan pendikan yang diberikan satuan pendidikan dapat dilakukan secara optimal sehingga berdampak pada keluaran pendidikan yang berkualitas.

 C.    Sasaran Reform/Sasaran Perubahan

Sasaran perubahan yang akan dilakukan di antaranya adalah leadership kepala satuan pendidikan yang efektif dan peningkatan kompetensi kerja Kepala Satuan Pendidikan, Tenaga Pendidik dan Kependidikan dalam implementasi good governance

D.   Analisa Faktor Internal Dan Eksternal

Ada beberapa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki wilayah kerja Pendidikan baik SDM maupun Sarana Prasarana. Analisa tersebut dituangkan dalam SWOT Analisis berikut ini;

 Analisis SWOT Kualitas Pelayanan Pendidikan dalam Menciptakan Sekolah yang Aman, Nyaman dan Mencerdaskan

a.     Strenghts (Kekuatan)
  1. Faktor motivasi seluruh bagian dalam organisasi
  2. Kerjasama antara seluruh tim yang bekerja
  3. Seluruh tim merupakan tenaga terdidik sehingga memudahkan dalam memahami arah dan materi yang diberikan
  4. Dukungan dari tim widyaiswara dan lembaga terkait
  5. Dukungan dari Kepala Dinas Pendidikan tingkat Provinsi maupun Kotamadya
  6. Dukungan dari Masyarakat
b.     Weaknesses (Kelemahan)
  1. Keterbatasan waktu yang dimiliki pimpinan pendidikan dalam melaksanakan tahapan strategi.
  2. Hambatan komunikasi diantara komponen organisasi pendidikan
  3. Pengembangan jaringan dengan lembaga-lembaga terkait karena terbatasnya informasi yang ada.
  4. Kendala sarana prasarana yang masih minim
  5. Training Consultant untuk jajaran pendidikan khususnya di wilayah Kecamatan masih minim
  6. Jumlah SDM di Seksi Dinas/UPT Pendidikan Kecamatan masih sedikit
c.      Opportunities (Peluang)
  1. Adanya kebijakan nasional dan daerah yang mengharuskan penyediaan dana sebesar 20 % bagi pendidikan.
  2. Tingginya minat masyarakat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  3. Karakteristik masyarakat yang mendorong partisipasi masyarakat.
  4. Adanya lembaga pemberdayaan masyarakat yang mendukung pendidikan.
  5. Angka Usia Sekolah di Indonesia tinggi
 d.    Threats (Tantangan)
  1. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang belum merata.
  2. Meningkatnya pengaruh budaya asing yang negatif.
  3. Adanya ketidakkonsistenan kebijakan nasional dan daerah.
  4. Dinamika politik Indonesia yang masif
  5. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pendidikan
E.     Tahapan Kegiatan (Milestone)

Berikut beberapa kegiatan yang akan dilakukan agar kualitas pelayanan pendidikan dapat ditingkatkan :

1.       Tahap Perencanaan
  1. Perencanaan program peningkatan Kompetensi SDM pada Satuan Pendidikan melalui seminar, pelatihan dan pembinaan spiritual.
  2. Perencanaan program pengadaan sarana prasarana di Satuan Pendidikan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal.
  3. Perencanaan program Twin School baik dalam maupun luar negeri
  4. Perencanaan program kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri dalam memajukan kualitas satuan pendidikan
2.      Tahap Pengorganisasian
  1. Menghimpun dan menginventarisir kuantitas (jumlah) dan kualitas (jenjang pendidikan) SDM pendidikan
  2. Menginventarisir Saran prasaran seluruh satuan pendidikan
  3. Menghimpun jaringan (lembaga luar) yang dimiliki satuan pendidikan
3.      Tahap Pelaksanaan
  1. Audiensi dengan SDM Pendidikan Kecamatan (Kepala Satuan Pendidikan, Tenaga Pendidik dan Kependidikan) untuk menerima masukan dan saran dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.
  2. Menghimpun sumber-sumber dana yang akan digunakan dalam kegiatan peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.
  3. Melaksanakan kegiatan peningkatan Kompetensi Kepala Satuan Pendidikan melalui pendidikan lanjut, Leadership Training (inbond dan outbond), Collegial Learning, workshop dan pelatihan customer service satisfaction.
  4. Melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi tenaga pendidik melalui studi lanjut, teaching and conseling skill, leadership training, Management Information Sistem Training, IT Training dan pelatihan customer service satisfaction.
  5. Melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi tenaga kependidikan melalui kegiatan, administration training, Management Information Sistem Training, IT Training, Skill full training dan pelatihan customer service satisfaction.
  6. Melakukan kunjungan ke lembaga pendidikan yang memiliki kualitas standar nasional dan internasional
  7. Menjajaki kerjasama dengan NGO dan Dunia Usaha Dunia Industri dalam pengadaan sarana-prasana sekolah maupun peningkatan SDM Pendidikan
  8. Menyebarkan angket kepuasan pelanggan (siswa, orang tua dan masyarakat)
4.      Tahap Evaluasi
  1. Melakukan supervisi ke setiap satuan pendidikan secara berkala
  2. Melakukan evaluasi kegiatan pendidikan di setiap satuan pendidika dalam tri wulan
  3. Melakukan evaluasi hasil penyebarang angket kepuasan pelanggan (siswa, orang tua dan masyarakat).


BAB III PENUTUP

Kunci sukses dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan ada pada kemampuan Kepala Seksi / UPT Pendidikan di tingkat Kecamatan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Program kerja yang dilakukan cukup realistis artinya mampu terukur oleh pimpinan maupun mitra kerja (kepala satuan pendidika, tenega pendidik dan kependidikan) yang melaksanakan tugas pendidikan di sekolah. Namun program tersebut harus terus dievaluasi demi perbaikan kegiatan tersebut.Output yang diperoleh dari peningkatan kualitas pelayanan pendidikan adalah menciptakan sekolah yang aman, nyaman dan mencerdaskan melalui pelayanan prima yang diberikan oleh perangkat satuan pendidikan (kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan)

Oleh Sobirin, M.Pd.



KEPUSTAKAAN

Anwar,  Qomari dan Syaiful Sagala, 2006. Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru Sebagai Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran, UHAMKA Press
Parasuraman, A. Valerie 2001. Delivering Quality Service. The Free Press, New York,
Sagala, Syaiful. 2007. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Besterfield, Dale H. Carol Besterfield-Michna, Glen H. Besterfield, Mary Besterfield-Sacre, 2003. Total Quality Management, Third Edition, New Jersey:Prentice Hall
Sallis, Edward. 2006. Total Quality Management In Education. Yogyakarta: Ircisod


Catatan kaki:

[1]    Dale H. Besterfield, Carol Besterfield-Michna, Glen H. Besterfield, Mary Besterfield-Sacre, 2003. Total Quality Management, Third Edition, New Jersey:Prentice Hall, hal.1
[2]    Edward Sallis. 2006. Total Quality Management In Education. Yogyakarta: Ircisod, hal. 12
[3]    A. Valerie Parasuraman, 2001. Delivering Quality Service. The Free Press, New York, hal. 162
[4]    Qomari Anwar  dan Syaiful Sagala, 2006. Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru Sebagai Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran, UHAMKA Press, hal 58.
[5]    Syaiful Sagala. 2007. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan. Bandung: Alfabeta, hal. 45
[6]    Ibid,  hal.258

Selasa, 04 Desember 2018

REKAYASA SOSIAL MERUBAH PEMAHAMAN DAN PERILAKU EKONOMI MASYARAKAT SESUAI SYARI’AH

(Studi Kasus Usaha Koperasi Syari’ah Huwaiza Pancoran Mas Depok Jawa Barat merekrut nasabah dari kalangan masyarakat awam di sekitarnya)


Abstrak

The Strategi of Koperasi Syari’ah Huwayza to change community behavior in economic affair fromm the conventional banking to the sharia one. Even the system of sharia economic base on Qur’anic text and words of Rasul its can be aplicated by whole of groups of community or religions not just for the muslims. Even though, many muslims not understand Islamic economic very well. So we can see, they use conventional bank that aply “riba” system.

To give guidance for the study, its identificated to several questions. How did Koperasi Syari’ah Huwayza change the thougt of community to aply sharia economic?  What is the challenge to that aims, and what is the sollutions? In this kwalitatif study, the informatios gained by observation and interviewing founders, leaders, officers, members and the clients.

Koperasi Syari’ah Huwaiza located at Jl. Raya Parung Bingung, Pancoran Mas, Depok West Java. Established in 2002. In the year 2005 has legally found. They educating their clients the sharia economic in the little groups, while they serving sharia funding programs for local home buzzines to member of the groups. Koperasi Syari’ah Huwaiza has succeed to change the behavior of community in the economic affair, thus improving their income prosperity. By changed their banking to the sharia economic.

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Syari’ah Islam adalah konsep tuntunan yang lengkap bagi kehidupan manusia. Karena meski bersumber dari nash Al-Quran dan sunnah Rasul, sistem Islam sesungguhnya bersifat universal dan tidak eksklusif bagi umat muslim saja, sehingga bisa diterapkan oleh seluruh umat manusia. Begitupun sistem ekonomi syari’ah. Namun demikian masyarakat awam belum terlalu paham terhadap apa itu sebenarnya ekonomi syariah. Sehingga masih ditemukan masyarakat kaum muslimin yang menggunakan jasa “bank keliling” (rentenir) untuk keperluan ekonomi mereka sehari-hari.

Koperasi Serba Usaha Syari’ah Huwaiza telah sepanjang 12 tahun usahanya berusaha mengalihkan ketergantungan masyarakat disekitarnya terhadap “bank keliling” yang bersifat ribawi kepada pembiayaan syari’ah yang merupakan bidang usaha koperasi itu.

B. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah dalam pemahaman maka penulis membagi permasalahan kedalam beberapa pertanyaan seperti berikut:

  1. Bagaimana cara Koperasi Syari’ah Huwayza merubah pemahaman masyarakat untuk beralih menggunakan konsep ekonomi syari’ah?
  2. Apakah hambatan dan tantangan yang dihadapi Koperasi Syari’ah Huwayza dalam melakukan hal itu?

C. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kwalitatif deskriptif. Dalam metode penelitian, penulis melakukan teknik pengumpulan data melalui wawancara terpimpin dengan menggunakan daftar pertanyaan yang dibacakan dan observasi. Wawancara dilakukan terhadap pendiri, jajaran pengurus koperasi, para anggota dan nasabah.

D. Kajian Teori: Dakwah dan Rekayasa Sosial

Dakwah adalah suatu kegiatan untuk  membina manusia agar mentaati ajaran islam, guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dan berdakwah merupakan perjuangan hidup untuk menegakkan dan menjunjung undang-undang ilahi dalam seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat, sehingga ajaran islam menjadi sibghah (celupan) yang mendasari, menjiwai dan mewarnai seluruh sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan dan pergaulan hidupnya.[1]

Rekayasa sosial (Social engineering) adalah campur tangan gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial. Rekayasa sosial merupakan sebuah jalan mencapai sebuah perubahan sosial secara terencana. Gerakan ilmiah yang dimaksudkan disini adalah sebuah gagasan atas perubahan tingkat/taraf kehidupan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan dan kemandirian. Masyarakat pada umumnya menginginkan adanya perubahan sosial kearah yang lebih baik sehingga perubahan sosial harus dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terencana.

Secara etimologis rekayasa sosial diadaptasi dari social engineering, terbentuk dari dua kata yaitu social yang berarti living in groups, not separately, of people living in communities; of relations between persons snd communities,[2] dan engineering, yaitu the application of sicence for the control and use of power.[3] Maka frasa ini bisa berarti the application of science for the control of community living. Atau aplikasi ilmu pengetahuan untuk mengontrol kehidupan social, terkadang juga menggunakan paksaan kekuatan.

Sedangkan dalam Bahasa Indonesia rekayasa berarti penerapan kaidah-kaidah imu dalam pelaksanaan (seperti perancangan, pembuatan konstruksi serta pengoperasian kerangka, peralatan dan system yang ekonomis dan efisien).[4] Maka rekayasa social adalah penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaan yang berkaitan dengan kemasyarakatan.

Padanannya dalam bahasa Arab disebut dengan taghyir ijtima’iy.[5] Taghyir adalah mashdar dari ghayara – yughayyiru – ghiyaar wa taghyiran,[6] yang berartiberubah, merubah dan perubahan. Sedangkan ijtima’iy berarti kemasyarakatan atau social.[7] Yaitu cara untuk mengubah tatanan kondisi masyarakat yang menyimpang, salah dan buruk menjadi kondisi masyarakat yang terarah, benar dan baik.[8] Dalam Al Qur’an istilah ini ditemui dalam surat Ar Ra’du ayat ke 11.

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Rekayasa social dilakukan karena adanya problem-problem sosial.[9] Problem social muncul dari ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi. Jalaludin Rachmat menyebutkan bahwa sumber-sumber perubahan bisa disebabkan oleh; (1)Kemiskinan (poverty) sebagai problem yang melibatkan banyak orang. (2) Kejahatan (crimes) yang biasanya berjenjang dari blue collar crimes sampai white collar crimes, dan (3) Pertikaian atau konflik (conflict), konflik sosial bisa bersifat etnis, rasial, sektarian, ideologis, dan sebagainya.[10]

Problem social muncul dari ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi. Misalnya dalam studi ini, syari’ah Islam sesungguhnya menyediakan solusi bagi pengentasan kemiskinan, namun yang terjadi adalah masyarakat lebih suka menggunakan jasa bank keliling dengan berbagai alasan, karena ketidaktahuan mereka akan keunggulan sistem syari’at dalam masalah keuangan.

Secara sederhana, rekayasa sosial adalah upaya mengkonstruksikan bangunan sosial menuju masyarakat yang ideal sesuai dengan yang kita cita-citakan. Sebuah bangunan sosial ideal itu lahir dari seperangkat nilai dan system yang sudah disepakati oleh ‘para pe-rekayasa’.

Selain problem yang berkaitan dengan relasi ilmu dan nilai. Problem aksiologis adalah problem yang berhubungan dengan tujuan, fungsi, dan manfaat ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Berkaitan dengan persoalan ini, setiap ilmu pengetahuan umumnya memiliki fungsi-fungsi khusus dalam hubungannya dengan suatu objek pengetahuan. Sebuah rekayasa social harus dimulai dengan merubah cara berfikir.[11]

Adapun fungsi ilmu adalah memberikan penjelasan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan.[12] Secara langsung ataupun tidak langsung, kegiatan dakwah sangat berguna untuk mebimbing masyarakat untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai islam. Perubahan sosial yang direncanakan disebut dengan beberapa istilah, diantaranya rekayasa-sosial, perencanaan-sosial, dan manajemen-perubahan.

Dalam hal fungsi manajemen, rekayasa social melingkupi fungsi Penggerakan atau Actuating. Adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi.[13] Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif.

Koperasi adalah lembaga usaha yang dinilai cocok untuk memberdayakan rakyat kecil. Nilai-nilai koperasi juga mulia seperti keadilan, kebersamaan, kekeluargaan, dan kesejehateraan bersama.
Dalam Islam, koperasi tergolong sebagai syirkah/syarikah. Lembaga ini adalah wadah kemitraan, kerjasama, kekeluargaan, dan kebersamaan usaha yang sehat, baik, dan halal. Lembaga yang seperti itu sangat dipuji Islam seperti dalam firman Allah,

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

Dan bekerjasamalah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah saling bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2).

قال لقد ظلمك بسؤال نعجتك إلى نعاجه وإن كثيرا من الخلطاء ليبغي بعضهم على بعض إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وقليل ما هم وظن داوود أنما فتناه فاستغفر ربه وخر راكعا وأناب

Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat dzalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat dzalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.(Shaad: 24).

Bahkan, Nabi saw. tidak sekadar membolehkan, juga memberi motivasi dengan sabdanya dalam hadits Qudsi,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَفَعَهُ قَالَ: " إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا " 
[14]
Aku (Allah) merupakan pihak ketiga yang menyertai (untuk menolong dan memberkati) kemitraan antara dua pihak, selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak lainnya. Jika salah satu pihak telah melakukan pengkhianatan terhadap mitranya, maka Aku keluar dari kemitraan tersebut.” (HR. Abu Daud).

Ilmuan dakwah sepakat bahwa arah perubahan sosial dapat diramalkan, diarahkan dan direncanakan. Perubahan sosial yang bergerak melalui rekayasa sosial terutama dapat dimulai dari perubahan individual, baik dalam cara berfikir maupun bersikap. Dalam konteks dakwah, arah perubahan yang dituju adalah pembentukan ummat yang unggul dan pilihan di antara manusia.

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا …

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (umat wasath) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…(Al Baqarah: 143).

Dengan teraktualisasikannya prinsip-prinsip syariah dalam pengelolaan ekonomi, koperasi bisa mewujudkan keadilan dan menyejahterakan bagi semua.


BAB 2 PEMBAHASAN


A. PROFIL KOPERASI SERBA USAHA SYARI’AH HUWAIZA

1. Sejarah Ringkas Koperasi Serba Usaha Syari’ah Huwaiza

Awal berdirinya Koperasi Huwayza ini bermula dari kelompok pengajian ibu-ibu, yang berjumlah 12 orang[15], di mana Ibu Namah Purnama (sekarang Ketua Koperasi)  menjadi anggotanya. Ketika itu beberapa anggota terkadang menghadapi kendala keuangan untuk biaya-biaya seperti biaya sekolah anak, untuk berobat atau membeli barang-barang yang sangat dibutuhkan. Maka dengan niat tolong menolong kelompok pengajian ini sepakat membuat koperasi untuk membantu sesama anggota pengajian itu.

Maka pada 19 Januari 2002[16], dimulailah usaha koperasi ini. Ketika itu nama koperasi ini adalah Kelompok Swadaya Masyarakat Teratai. Modal awalnya Rp.244.200,-[17]. Dana itu berasal dari uang kas pengajian yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit melalui infaq pengajian. Modal ini digunakan sebagai pembiayaan awal kepada anggota. Usaha ini dirasakan besar manfaatnya bagi para anggota. Setelah berjalan beberapa waktu, kelompok kecil ini mulai mengajak ibu-ibu yang banyak terlibat dalam kegiatan pengajian-pengajian di sekitar koperasi, yaitu di wilayah kecamatan Pancoran Mas.

Koperasi sempat mengalami masa-masa seperti hidup segan, mati tak mau. Yaitu ketika kelompok pengajian ini berkurang anggotanya, karena berbagai sebab. Sebagian anggota, di mana semua anggota kelompok pengajian adalah pengurus koperasi, pindah domisili dan lain sebagainya. Berkurangnya anggota berpengaruh besar pada kegiatan koperasi. Tetapi berkat kegigihan Ibu Eni Nurmayanti (bendahara koperasi ketika itu) koperasi dapat bertahan, sambil terus menambah anggota.[18]

Seiring berjalannya waktu, anggota koperasi terus meningkat dan modal yang masih murni berasal simpanan anggota pun bertambah.  Pembiayaan kepada anggota juga mengalami peningkatan. Sampai dengan 2005, asset koperasi sudah mencapai Rp.10.000.000,-.[19] Lalu, pada tanggal 27 April 2005, diuruslah status badan hukum bagi koperasi. Namanya pun berubah menjadi Koperasi Serba Usaha Huwaiza. Setelah resmi berbadan hukum, pengurus koperasi lebih berani melakukan pemasaran kepada masyarakat secara terbuka dengan menyelenggarakan launching (peluncuran) koperasi.

Pada tahun 2006, koperasi mendapat predikat sebagai Koperasi Wanita Pertama di kota Depok. Padahal ketika itu kantor koperasi masih menumpang di rumah Ibu Eni Nurmayanti. Pada tahun 2007, koperasi mendapat suntikan dana Rp. 100.000.000,- dari Dinas Koperasi Kota Depok berupa pinjaman lunak, yang dilunasi dalam jangka sepuluh tahun.

Lalu pada tahun 2008[20], mengikuti Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM Nomor 21/KEP/MENEG/IV/2001 tentang pengesahan adanya perubahan anggaran dasar koperasi. KSU Huwaiza yang sejak awal berkomitmen untuk menerapkan system keuangan syariah segera mengubah akta pendiriannya menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Syariah Huwaiza.[21]
Jumlah anggotanya yang tercatat sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 2213 orang[22] dengan total asset yang dikelola koperasi saat ini Rp.4.747.307.078,-.[23] Saat ini KSU Syari’ah Huawiza beralamat di Jl. Raya Parung Bingung No.2 Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok Jawa Barat.

2. Visi Misi Koperasi Serba Usaha Syari’ah Huwaiza
  1. Koperasi Serba Usaha Syari’ah Huwaiza membangun visi sebagai lembaga keuangan syari’ah yang amanah dan professional. Adapun misi yang diembannya adalah:
  2. Membangun dan mengembangkan syi’ar Islam melalui pemberdayaan ekonomi ummat.
  3. Mengembangkan ekonomi ummat dengan berperan secara aktif menghimpun dana ummat dan mengelolanya dengan prinsip syari’ah.
  4. Meningkatkan pengelolaan keuangan ekonomi ummat secara amanah dengan mengacu pada prinsip keadilan dan kemudahan bagi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
  5. Membangun jaringan ekonomi ummat yang mampu menjangkau lapisan masyarakat terbawah melalui pemberdayaan ekonomi mikro.
  6. Meningkatkan kegiatan usaha dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan anggota dan masyarakat.[24]

B. USAHA KOPERASI HUWAIZA MENSOSIALISASIKAN SISTEM KEUANGAN SYARI’AH

1. Pembentukan Kelompok Persaudaraan Perempuan Usaha Huwaiza

Strategi utama Koperasi Huwaiza dalam merekrut nasabah yaitu melalui produk simpanan KP2UH, atau Kelompok Persaudaraan Perempuan Usaha Huwaiza.[25] Sejatinya produk koperasi ini adalah kelompok pengajian ibu-ibu yang dibentuk oleh koperasi. Kelompok ini dibina oleh ustadz dan ustadzah yang ditunjuk koperasi sebagai mentor atau guru tetap bagi kelompok itu. Kelompok ini mendapat prioritas dalam masalah-masalah pembiayaan koperasi, dengan syarat-syarat yang lebih mudah.

Secara umum model pengajian ini disenangi oleh para anggotanya. Pada umumnya mereka menyatakan suka dengan materi yang disampaikan. Walau mereka mengakui bahwa mereka mendapatkan kemudahan dalam mengajukan kredit, tetapi alasan kesenangan mereka terhadap kegiatan lebih utama.[26]

Secara terperinci manfaat KP2UH sebagai upaya dakwah adalah sebagai berikut:
Menyebarkan nilai-nilai (ekonomi) islam di tengah masyarakat. Dengan ini koperasi bisa menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat, untuk menyadarkan pentingnya syari’at dalam kehidupan sehari-hari. Pengajian berkala pekanan dalam kelompok kecil membuat pencapaian pemahaman materi para anggotanya lebih dapat diukur dan diawasi. Karena kelompok yang kecil memudahkan mentor mengevaluasi anggotanya secara individual. Para anggotanya merasakan bahwa materi-materi pengajian lebih menyentuh persoalan keseharian yang mereka hadapi. Mereka seringkali mendapatkan solusi bagi masalah-masalah fiqih sehari-hari.[27]

Mengeratkan ikatan persaudaraan. Kelompok dengan anggota yang sedikit juga membuat interaksi di antara anggota jadi lebih intens. Sehingga hubungan antar individu di dalamnya lebih akrab dan hangat.[28]

Menggerakkan arus perubahan social. Kelompok-kelompok yang dibentuk ini secara natural menyebarkan pengetahuannya kepada lingkungan masyarakat di sekitar mereka. Sehingga sedikit demi sedikit diharapkan terjadi perubahan pemahaman masyarakat akan pentingnya syari’at dalam kehidupan sehari-hari.[29] Setidaknya kegiatan mereka diketahui dan didukung oleh anggota keluarga mereka masing-masing.[30] Ini adalah suatu potensi dalam menyebarkan nilai keunggulan dan keutamaan sistem syari’ah. Karena secara langsung maupun tidak, anggota keluarga juga merasakan manfaat dari sistem ini.

Cara mensosialisasikan yang ditempuh ini menggunakan Strategi Normative-Reeducative (normatif-reedukatif); Normative merupakan kata sifat dari norm yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat (norma sosial), sementara reeducation dimaknai sebagai pendidikan ulang untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Sifat strategi perubahannya perlahan dan bertahap.[31]

Cara atau taktik yang digunakan adalah mendidik, yakni bukan saja mengubah perilaku yang tampak melainkan juga mengubah keyakinan dan nilai sasaran perubahan.

2. Presentasi ke Majelis-majelis Ta’lim.

Setelah launching, koperasi lebih gencar melakukan upaya marketing, yaitu presentasi ke majelis-majelis ta’lim.[32] Dalam majelis taklim ada suatu ikatan yang khas antara ustadzah pembimbingnya dengan para jama’ahnya. Di mana biasanya para ustadzah sering menjadi rujukan bagi para jama’ahnya dalam hal-hal strategis, semacam penentuan awal dan akhir ramadhan, hari idul qurban, pilihan politik dan semacamnya. Fenomena ini cukup efektif bagi KSU Huwaiza dalam merekrut nasabah. Hal ini terlihat bahwa nasabah dari kalangan kaum ibu rumah tangga –yang merupakan basis jama’ah majelis ta’lim- mengambil porsi relative besar yaitu 15% dari seluruh nasabah.[33]
Presentasi pemasaran ini berhasil membuat lonjakan dalam penambahan jumlah nasabah. Terutama setelah KSU Syari’ah Huwaiza menerima bantuan dana dari pemerintah yaitu pada tahun 2008.[34] Kegiatan presentasi memang dilakukan dengan lebih massif karena dukungan dana yang tersedia.

Cara presentasi ini menggunakan Persuasive Strategy (strategi persuasif); Strategi ini dijalankan melalui pembentukan opini dan pandangan masyarakat, biasanya menggunakan media massa dan propaganda.[35]

Cara atau taktik yang digunakan adalah membujuk, yakni berusaha menimbulkan perubahan perilaku yang dikehendaki para sasaran perubahan dengan mengidentifikasikan objek sosial pada kepercayaan atau nilai agen perubahan. Bahasa merupakan media utamanya.

Efektifitas teori persuasi sangat bergantung pada media yang dipergunakan. Media itu dibagi dua; (1) media pengaruh (media komunikasi yang digunakan pelaku perubahan untuk mencegah sasaran perubahan), dan (2) media respon (media yang digunakan oleh sasaran perubahan dalam menggulingkan tanggapan mereka), keduanya dapat menggunakan media massa atau saluran-saluran interpersonal.

Di mana perubahan social berasal dari Great individuals (tokoh-tokoh besar); perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati dari para pengikutnya yang setia, kemudian bersama-sama dengan simpatisan itu, sang pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat (great individuals as historical forces).[36]

3. Presentasi ke Sekolah-sekolah

Di samping majelis ta’lim KSU Syari’ah Huwaiza juga menyasar sekolah-sekolah sebagai lahan mencari nasabah. Nasabah KSU ini dari kalangan sekolah yang cukup penting adalah guru-guru dan murid di SMP Muhammadiyah 4 Depok. Mereka ini nasabah pertama yang cukup potensial dari kalangan sekolah.[37] Bisa dikatakan sekolah ini adalah pijakan yang kokoh bagi KSU Syari’ah Huawiza untuk membuat langkah yang lebih lebar. Sekolah-sekolah Islam dalam pandangan pegurus KSU Huwaiza adalah ladang yang subur untuk menanamkan pemahaman syari’ah.[38]

Meski demikian nampaknya strategi ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Jumlah nasabah kelompok guru misalnya, tercatat hanya berjumlah 74 orang. Yaitu hanya mengambil porsi 3% dari keseluruhan nasabah. Begitu pula nasabah dari kalangan pelajar yang hanya 56 orang. Meskipun jika dilihat dari persebarannya cukup menjanjikan.  Yaitu berasal dari 14 sekolah.[39]

4. Penyebaran Informasi dari Mulut ke Mulut

Strategi ini adalah strategi yang paling awal dilakukan. Sejak KSU ini berdiri, semua anggotanya aktif menyebarkan informasi keberadaan dan sistem kerja mereka dengan cara ini. [40] Dengan cara inilah dulu terkumpul nasabah yang membuat roda organisasi bisa dijalankan.

Dewasa ini strategi ini dikerjakan oleh tenaga kolektor KSU Syari’ah Huwaiza. Di samping mereka bertugas memungut cicilan dari nasabah, juga berperan sebagai marketing dari mulut ke mulut. Bedanya dengan yang dulu, para kolektor lebih progresif, karena mereka diberi target pencapaian jumlah nasabah tertentu dengan bonus yang ditentukan pula.[41]

5. Aksi-aksi Sosial

Di samping usaha-usaha di atas, sebagai lenbaga keuangan syari’ah mikro, KSU Syari’ah Huwaiza juga memiliki sisi social di dalamnya. Dalam hal ini KSU Syari’ah Huwaiza mewujudkannya dalam beberapa program, yaitu[42]:
a. Program Anak Asuh. Saat ini KSU Syari’ah Huwaiza membina 8 orang anak asuh yang dibiayai pendidikannya. Mereka adalah:

Nama, Alamat, Pendidikan
Aldi Syutama, Jl Tiga Putra 003/004 Meruyung Limo Depok, SMK
E.F.Octoholy, Jl Masjid Al Hukama 003/004 Panmas Depok, BIMBA AIUEO
Irfan Maulana, Jl Masjid Al Hukama 003/004 Panmas Depok, SD Muhammadiyah
M. Ridwan, Jl. Ar Rahim 002/001 Meruyung Limo Depok, SD Muhammadiyah
Mawar Dewi, Jl. R Sanim 001/011 Curug Tanah Baru Beji Depok, SMK
Septian Imam, Jl Pitara 003/007 Rangka-pan Jaya Panmas Depok, MI Sirajul Athfal
Syifa Az Zahra, Kp. Kekupu 002/004 Rang-kapan Jaya Panmas Depok, TK B
Zaidan Arifin, Jl Tiga Putra 003/004 Meruyung Limo Depok, SD Muhammadiyah

b. Menyediakan Ta’jil untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang masih dalam perjalanan ketika tiba waktu berbuka.

c. Santunan anak yatim dan dhuafa. Dilakukan pada bulan Ramadhan.

Aksi-aksi sosial ini pada dasarnya juga bagian lain dari perwujudan syari’ah Islamiyah yang komprehensif. Dengan ini diharapkan, masyarakat dapat semakin mengerti dan memahami keunggulan syari’ah Islam dan manfaatnya bagi kehidupan.

Seungguhnya strategi yang diterapkan  KSU Syari’ah Huwaiza ini adalah implementasi ketujuh nilai yang menjiwai kepribadian koperasi versi Bung Hatta, yag dituangkan dalam tujuh prinsip operasional koperasi secara internal dan eksternal. Ketujuh prinsip operasional itu adalah; Pertama, keanggotaan sukarela dan terbuka. Kedua, pengendalian oleh anggota secara demokratis. Ketiga, partisipasi ekonomis anggota. Keempat, otonomi dan kebebasan. Kelima, pendidikan, pelatihan dan informasi. Keenam, kerjasama antar koperasi. Ketujuh, kepedulian terhadap komunitas.

Ketujuh prinsip Bung Hatta ini jika diperhatikan telah mencakup 7 nilai syariah dalam bisnis, meski dengan bahasa yang berbeda.
Pertama, shiddiq yang mencerminkan kejujuran, akurasi dan akuntabilitas.
Kedua, istiqamah yang mencerminkan konsistensi, komitmen dan loyalitas.
Ketiga, tabligh yang mencerminkan transparansi, kontrol, edukatif, dan komunikatif.
Keempat, amanah yang mencerminkan kepercayaan, integritas, reputasi, dan kredibelitas.
Kelima, fathanah yang mencerminkan etos profesional, kompeten, kreatif, inovatif.
Keenam, ri’ayah yang mencerminkan semangat solidaritas, empati, kepedulian, awareness.
Ketujuh, mas’uliyah yang mencerminkan responsibilitas.

6. Klasifikasi Nasabah KSU Syari’ah Huwaiza

Dari usaha-usaha sosialisasi yang telah dilakukan, didapati kenyataan bahwa tidak semua nasabah sudah memahami syari’ah sesuai dengan apa yang dimaksud. Pada dasarnya ini adalah fenomena yang wajar, di mana masing-masing individu obyek dakwah akan merespon pesan-pesan dakwah yang sampai kepadanya dengan cara yang berbeda-beda. Maka setidaknya ada tiga kelompok nasabah jika dilihat dari sisi motivasi mengapa mereka bergabung dengan KSU Syari’ah Huwaiza.
Orang-orang yang tertarik karena kedekatan emosional dengan para pengurus.[43] Kelompok ini ada yang tertarik menjadi anggota koperasi sejak awal koperasi ini didirikan. Perkenalan yang intens dalam kegiatan-kegiatan pengajian dan majelis ta’lim, melahirkan kepercayaan kepada individu-individu pengurusnya. Sehingga mereka mau menaruh uangnya pada koperasi.

Ada juga yang percaya kepada ustadzah yang mengelola majelis ta’lim tempat mereka mengaji. Ada juga yang belakangan menjadi anggota, yang merupakan warga yang dewasa ini, baru terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengajian yang diadakan para pengurusnya secara mandiri. Hal ini bisa dilihat bahwa sebanyak 52% nasabah adalah berjenis kelamin perempuan.[44]

Orang-orang yang mempercayai keunggulan sistem keuangan syari’ah.[45] Mereka ini tertarik ketika mengikuti presentasi-presentasi yang dilakukan koperasi. Biasanya bekerja sama dengan majelis-majelis ta’lim yang mereka ikuti. Lalu ketika mereka benar-benar merasakan keunggulan sistem syari’ah ini, lebih kuat kepercayaan mereka kepada koperasi Huwaiza.

Orang-orang yang peduli syari’ah.[46] Kelompok ini biasanya memiliki pemahaman yang baik akan pentingnya mematuhi aturan-aturan syari’ah dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang penting adalah kehalalan sistem yang ditawarkan. Adapun keunggulan secara material adalah akibat saja dari sistem syari’ah itu. Sehingga mereka lebih memilih menjadi nasabah koperasi meski dengan syarat-syarat yang biasanya memang relative lebih rumit dari persyaratan untuk menjadi nasabah bank-bank konvensional atau bank keliling.

C. KENDALA-KENDALA DALAM USAHA SOSIALISASI DAN SOLUSINYA

Beberapa kendala yang dihadapi KSU Syari’ah Huwaiza dalam usahanya mensosialisasikan sistem syari’ah ini antara lain:

1. Persaingan dengan Lembaga keuangan konvensional dan bank keliling.

Dewasa ini masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang pentingnya sistem syari’ah dalam ekonomi dan keuangan. Bank konvensional apalagi bank keliling menawarkan produk pembiayaan dengan syarat yang sangat mudah, sehingga masyarakat senang menggunakannya, tanpa fikir panjang.[47] Padahal bunganya relative tinggi. Suatu tantangan tersendiri bagi lembaga keungan syari’ah yang biasanya sedikit lebih rumit dalam persyaratannya.

Bank keliling juga sangat aktif memasarkan produknya di tengah-tengah masyarakat. Para pelaku bank keliling ini berkeliling kampong masuk keluar gang, bertemu langsung dengan masyarakat. Hal ini juga sulit dilakukan oleh lembaga keuangan syari’ah dengan tenaga pemasaran yang terbatas.
Hal inilah yang memunculkan ide membentuk KP2UH seperti yang telah dijelaskan di atas. Diharapkan dengan terbetuknya kelompok-kelompok yang mengkaji nilai-nilai Islam di masyarkat, akan menjadi sel-sel yang membelah diri berkembang dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

2. Citra KSU Syari’ah Huwaiza yang terbentuk di tengah masyarakat.

Ada beberapa image yang terbentuk dalam pandangan masyarakat yang cukup menghambat gerak koperasi. Ketika dulu KSU Syari’ah Huwaiza bergerak dari SMP Muhammadiyah 4 Depok, koperasi dicitrakan oleh masyarakat yang kebanyakan beorientasi ke ormas NU, sebagai orang Muhammadiyah. Ini cukup menghambat upaya-upaya marketing di tengah masyarakat.[48]

Citra lainnya yang juga menghambat adalah teridentifikasinya satu dua orang pengurus KSU Syari’ah Huwaiza sebagai anggota atau simpatisan partai politik tertentu. Sehingga muncul kekhawatiran di antara masyarakat akan direkrut menjadi anggota partai. Bahkan muncul juga desas desus tentang “pengajian gelap” terhadap pengajian yang dikelola KSU Syari’ah Huwaiza.[49]

Untuk masalah ini KSU Syari’ah Huwaiza mengatasinya dengan memindahkan kantor mereka ke lokasi yang lebih netral dan lebih strategis yaitu di lokasinya yang sekarang. Seiring dengan waktu sedikit demi sedikit masyarakat merasakan keunggulan sistem syari’ah ini. Bahkan beberapa tokoh pengurus Masjid yang NU juga ada yang jadi nasabahnya.[50]

3. Kurangnya Sumber Daya Manusia

Kendala yang cukup signifikan adalah kurangnya sumber daya untuk mensosialisasikan produk-produk syari’ah. Baik secara presentasi kepada lembaga-lembaga, maupun tenaga lapangan untuk menjangkau masyarakat di pelosok-pelosok pemukiman. Tenaga kolektor yang dimiliki sekarang hanya 2 orang untuk melayani nasabah yang lebih dari 2000 orang.[51] Sehingga terjadi kesulitan untuk melakukan penyebaran informasi dari mulut ke mulut, karena terpaku kepada tugas pokok yang relative berat.[52] Untuk itu akan direkrut lagi 2 orang tenaga lapangan.[53] Di samping itu juga diadakan mobil kas keliling dalam rangka lebih mendekatkan dan memberi kemudahan bagi anggota.[54] Mobil itu digunakan untuk melayani anggota yang jauh dan mempermudah nasabah melakukan transaksi agar tidak perlu repot lagi datang ke kantor koperasi Huwaiza. Diharapkan dengan ini juga target penambahan nasabah bisa tercapai.[55]

Begitu pula, KSU Syari’ah Huwaiza merasa kurangnya kemampuan pada tubuh organisasi mereka menyediakan tenaga pemasaran yang kapabel untuk berpresenteasi di hadapan lembaga-lembaga lain di tengah masyarakat.[56]

Untuk itu telah dirancanakan beberapa kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas pengurus dan pegawai seperti pelatihan pengelolaan kelompok perkotaan.[57] Pelatihan ini akan diikuti oleh para mentor KP2UH dan anggotanya. Juga akan dilaksanakan pelatihan marketing.[58] Beberapa pengurus terasnya juga sedang terlibat dalam pelatihan-pelatihan presentasi yang efektif.


BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dalam prespektif dakwah rekayasa sosial merupakan strategi yang efektif dalam mengajak manusia untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran islam.

Koperasi Syari’ah Huwaiza membina nasabahnya dengan cara mensosialisasikan pemahaman ekonomi syari’ah melalui pengajian-pengajian sembari menyediakan permodalan syari’ah untuk usaha kecil. Di samping usaha-usaha dakwah lainnya, seperti bimbingan baca tulis Al Qur’an dan ceramah-ceramah agama peringatan hari besar Islam. Terbukti dengan bertambahnya jumlah nasabah yang mencapai angka di atas 2000 orang.

Koperasi Syari’ah Huwaiza telah berhasil merubah masyarakat dalam perilaku ekonomi, sekaligus meningkatakan pendapatan dan taraf hidup masyarakat. Semula menggunakan bank keliling (rentenir), lalu mengalihkan pembiayaan kepada koperasi syari’ah, yaitu melalui usaha dakwah yang memadukan teori dan praktek. Dalam dunia dakwah disebut dakwah bil lisan dan dakwah bil hal.
Hambatan dan tantangan terberat dari usaha sosialisasi sistem syari’ah adalah persaingan yang masih cukup berat dengan lembaga-lembaga keuangan konvensional yang menjalankan prosedur yang lebih mudah bagi pengajuan kredit. Di samping itu, lembaga-lembaga keuangan konvensional juga memiliki sumber daya yang banyak dan kuat.


B. SARAN

Jaringan ummat Islam sesungguhnya adalah jaringan yang kuat jika berhasil disatukan. Perlu diupayakan terus menggalang silaturahim dengan berbagai elemen ummat dari latar belakang yang bermacam-macam.

Meniru bentuk KP2UH yang dikembangkan di masyarakat umum, nampaknya Koperasi Serba Usaha Syari’ah Huwaiza perlu juga membentuk kelompok semacam itu di lingkungan sekolah-sekolah terutama yang telah ada nasabah mereka di situ.

Mengingat sekolah dengan karakteristik masyarakatnya yang cenderung homogen, maka Koperasi Serba Usaha Syari’ah Huwaiza perlu meningkatkan usaha sosialisasi ke sekolah-sekolah agama maupun umum.


oleh Wahyu Bhekti Prasojo
Dosen STAI Al-Qudwah Depok


Daftar Pustaka

Buku Rapat Anggota Tahunan ke 12, KSU Syari’ah Huwaiza, Tahun Buku 2014.
Hornby, A.S, 1980, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Oxford University Pree, Oxford.
Imampuro, Rachmat .1982.  Ilmu Dakwah. Badan Penerbitan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, Semarang.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007.
Munawwir, A.W, 1997, Kamus Al Munawwir, Surabaya, Pustaka Progressif.
Munir, M & Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, 2009, Prenada Kencana Group, Jakarta.
Rahmat, Jalaludin, 2000, Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi?, Bandung: Rosda.
Sulayman, Abu Dawud bin al ‘Asy’asy bin Ishaq bin Basyir As Sijistany, Sunan Abu Dawud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah Shida Beyrut.
Supena, Ilyas, 2007. Filsafat Ilmu Dakwah: Perspektif Filsafat Ilmu Sosial, Semarang : Abshor bekerja sama dengan fakultas dakwah IAIN Walisongo.
Sumber Internet:
http://koperasihuwaiza.blogspot.com/p/profil.html,
http://jurnalbogor.co/?p=79426,
http://definisi.org/pengertian-pergerakkan-motivating-actuating-menurut-para-ahli.
http://karimlahaya.blogspot.com/2011/10/rekayasa-sosial-oleh-karimlahaya.html


Catatan Kaki:
[1]     Rachmat Imampuro .1982.  Ilmu Dakwah. Badan Penerbitan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, Semarang, hal 3.
[2]     A.S Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Oxford University Pree, Oxford, 1980, hal.818.
[3]     Ibid, hal.285.
[4]     Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007, hal.942.
[5]     M.Munir & Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, 2009, Prenada Kencana Group, Jakarta, hal.254.
[6]     A.W Munawwir, Kamus Al Munawwir, Surabaya, Pustaka Progressif, 1997, hal.1026.
[7]     Ibd, hal.210.
[8]     Ibid,hal.253.
[9]     Jalaludin Rahmat, 1999, Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi atau Manusia Besar?, Bandung: Rosda. hal.55.
[10]    Jalaludin Rahmat, op.cit, hal.57-58.
[11]    Jalaludin Rahmat, op.cit, Bandung: Rosda, hal.3
[12]    Ilyas  Supena. 2007. Filsafat Ilmu Dakwah: Perspektif Filsafat Ilmu Sosial. Semarang : Abshor bekerja sama dengan fakultas dakwah IAIN Walisongo. Hal 233 -235.
[13]    http://definisi.org/pengertian-pergerakkan-motivating-actuating-menurut-para-ahli.  waktu akses, 14 Mei 2015, pukul 20;23 wib.
[14]    Abu Dawud Sulayman bin al ‘Asy’asy bin Ishaq bin Basyir As Sijistany, Sunan Abu Dawud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah Shida Beyrut, Juz 3, hal.256.
[15]    http://koperasihuwaiza.blogspot.com/p/profil.html, waktu akses 14 Mei 2015, 18:30 wib.
[16]    Buku Rapat Anggota Tahunan ke 12 KSU Syari’ah Huwaiza, Tahun Buku 2014, hal.iii.
[17]    http://koperasihuwaiza.blogspot.com/p/profil.html, waktu akses 14 Mei 2015, 18:30 wib.
[18]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, 5 Mei 2015.
[19]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, 5 Mei 2015.
[20]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, 5 Mei 2015.
[21]    http://koperasihuwaiza.blogspot.com/p/profil.html, waktu akses 14 Mei 2015, 18:30 wib.
[22]    Buku RAT ke 12, op.cit, hal.1.
[23]    Ibid, hal.5.
[24]    Ibid, hal.iii.
[25]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, 5 Mei 2015.
[26]    Wawancara dengan ibu-ibu anggota KP2UH, KSU Syari’ah Huwaiza, 5 Mei 2015.
[27]    Wawancara dengan Ibu Ayi Sarinah, nasabah KSU Syari’ah Huwaiza, anggota KP2UH, tanggal 5 Mei 2015.
[28]    Wawancara dengan Ibu Mulyanah, nasabah KSU Syari’ah Huwaiza, anggota KP2UH, tanggal 5 Mei 2015.
[29]    Wawancara dengan Ustadz Syafii, salah satu pendiri KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 17 Maret 2015.
[30]    Wawancara dengan ibu-ibu anggota KP2UH KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[31]    http://karimlahaya.blogspot.com/2011/10/rekayasa-sosial-oleh-karimlahaya.html, waktu akses 14 Mei 2015, pukul 20;20 wib.
[32]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[33]    Buku RAT ke 12, op.cit, hal.2.
[34]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[35]    http://karimlahaya.blogspot.com/2011/10/rekayasa-sosial-oleh-karimlahaya.html, waktu akses 14 Mei 2015, pukul 20;20 wib.
[36]    http://karimlahaya.blogspot.com/2011/10/rekayasa-sosial-oleh-karimlahaya.html, waktu akses 14 Mei 2015, pukul 20;20 wib.
[37]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[38]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[39]    Buku RAT ke 12, op.cit, hal.1.
[40]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[41]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[42]    Buku RAT ke 12, op.cit, hal.4.
[43]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[44]    Buku RAT ke 12, op.cit, hal.2.
[45]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[46]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[47]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[48]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[49]    Wawancara dengan Ustadz Syafii, tanggal 17 Maret 2015.
[50]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[51]    Buku RAT ke12, op.cit, hal.iv
[52]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[53]    Buku RAT ke12, op.cit, hal.6.
[54]    Ibid, hal.6.
[55]    http://jurnalbogor.co/?p=79426,  14/5/2015, 19:59 wib.
[56]    Wawancara dengan Ibu Namah Purnama, Ketua KSU Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[57]    Wawancara dengan Bapak Khoirudin, Manager KSU Syari’ah Huwaiza, tanggal 5 Mei 2015.
[58]    Buku RAT ke 12, op.cit, hal.8.

PROFIL GURU IDOLA



Abstrack


Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. 

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui profil guru idalam atau guru idola. Metode yang di pakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode literatur dan survei deskriptif.

Hasil Penelitian ini menjelaskan bahwa guru idola tergantung persepsi masing-masing tingkatan atau jenjang siswa. Guru idola bukan hanya sebatas wacana dan teori yang ada, guru idola lebih dari itu guru idola merupakan perwujudan karakter dan sikap profesional yang ditunjukan kepada guru di mata siswanya.


A. Pendahuluan


Pendidikan Merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen. Komponen-komponen pendidikan antara lain, Guru, siswa, Manajemen, kurikulum, sarana-prasarana, biaya dan lain sebagainya. Salah satu komponen yang sangat penting dari komponen tersebut adalah komponen guru. Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal (Mulyasa, 2005:10).

Guru merupakan panutan siswa, juga menjadi pusat perhatian siswa, bahkan banyak siswa yang mengidolakan (mendambakan) gurunya. Begitu juga dengan kepribadian guru akan menjadi tolak ukur bagi siswa, tidak siswa menginginkan kepribadian guru yang sama karena pribadi siswa juga berbeda- beda. Oleh karena itu dalam makalah ini akan di paparkan kriteria guru yang didambakan (diidolakan).

Menjadi guru yang didambakan setiap siswa adalah harapan setiap guru dan murid. Namun seperti apakah guru yang didambakan siswa ? setiap guru mempunyai karakter masing-masing yang melekat pada dirinya sehingga menjadi sebuah kepribadian bagi guru tersebut. Banyak sekali kepribadian guru yang mungkin ada pada guru karena beda orang, beda sifat, beda karakter ataupun beda kepribadian pada setiap orang. Begitu juga guru,antara guru dengan guru yang lain belum tentu mempunyai kepribadian yang sama karena mmereka memiliki sifat yang berbeda.


Setiap siswa pasti menginginkan sosok guru yang didambakan, dan juga menginginkan pribadi guru yang ia sukai. Berbicara soal keinginan atau “yang didambakan”, tidak semua siswa mendambakan pribadi guru yang sama, karena sifat siswa berbeda juga. Siswa A mendambaka guru X, yang tegas dan disiplin. Karena si A memiliki sifat yang disiplin juga, tidak senang awut-awutan dan selalu tepat waktu. Sementara si B tidak menyukai guru X karena ia sering telat masuk sekolah, oleh karena siswa B sering terlambat sehingga ia sering dapat teguran Oleh guru X. siswa B lebih suka pada guru Y yang cuek walaupun ia sering terlambat di sekolah.

“boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu (Q52:216)

Kepribadian guru berbeda-beda, kepribadian seorang guru X belum tentu didambakan semua siswa walaupun pada hakikatnya guru harus mempunyai kepribadian yang taat pada aturan dan disiplin.

Seorang guru yang professional, adalah guru yang mengabdikan hidupnya untuk menuangkan ilmu-ilmunya. Yang tak lari dari masalah, tapi menyelesaikannya. Hidupnya kokoh bagaikan akar pohon yang terus menembus kerasnya tanah. Demi mendapatkan makanan untuk dedaunan itu adalah anak didiknya. Saat daun iu menjadi sekuntum bunga, itulah saat anak didiknya dapat menunjukkan kemampuannya. Dan saat bunga itu tlah menjadi buah, itulah saat anak didiknya telah mencapai puncak prestasi dalam hidupnya. Kuatnya akar dalam mempertahankan berdirinya pohon itu saat diterpa angin seperti halnya kuatnya guru itu saat diterpa masalah dan cobaan dalam hidupnya. Pohon itu tetap berusaha berdiri tegak, sama halnya seperti guru yang tetap berdiri tegak untuk tetap mencurahkan ilmu pada murid-muridnya. Akar juga tak memikirkan dirinya sendiri, ia rela berkorban agar pohon tercukupi ilmu-Nya. Sosok seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, namun ia memikirkan bagaimana membuat anak didiknya menjadi sukses.

Ketika guru telah menjadi orang yang sukses. Sukses dalam menafkahi dirinya, sukses dalam mencetak generasi penerus bangsa, seharusnya ia menjadi seperti lampu. Lampu yang terus menerangi sekitarnya tanpa henti, ia terus mempertahankannya, walaupun kawatnya panas. Namun lampu tak kenal menyerah, ia terus bertahan, sampai akhirnya ia benar-benar tidak mampu. Seperti itulah, disaat orang sukses, yang paling sulit adalah mempertahankannya ibarat lampu yang memberi manfaat, itulah sosok guru yang di impikan. Ibarat lampu yang menerangi sekitarnya dengan cahayanya, itulah sosok guru yang menerangi muridnya dengan ilmu yang dimilikinya. Ibarat lampu yang terus-menerus menyala, itulah sosok guru teladan, yang terus memberi manfaat dengan menerangi ilmunya tanpa henti dan tak kenal lelah, sampai pada suatu saat lampu itu telah putus, itulah sosok guru yang tak pernah lelah mencurahkan ilmunya hinggga akhir hayatnya.

Dari Penjabaran di atas, maka dapat dikatakan sosok guru adalah sosok yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Bagaiamana sosok guru teladan atau guru idola, maka penulis bermaksud menjabarkan dalam karya imiah ini.


B. Pembahasan

1. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional

Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.

Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain: 

  1. mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, 
  2. menunggu peserta didik berperilaku negatif, 
  3. menggunakan destruktif discipline, 
  4. mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik, 
  5. merasa diri paling pandai di kelasnya, 
  6. tidak adil (diskriminatif), serta 
  7. memaksakan hak peserta didik (Mulyasa, 2005:20). 

Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni: 

  1. kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, 
  2. kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik, 
  3. kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,, 
  4. kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. 

Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respon hanya akan timbul, apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk, positif negati, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar, 2000: 15).

Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menurut Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.

Menurut penuturan R.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya: Pertama, menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Kempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.

Terkait dengan hal di atas, Hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki (Ronnie, 2005:62).

Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi.

Menurut Danni Ronnie M ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru, antara lain: 

  1. kasih sayang, 
  2. penghargaan, 
  3. pemberian ruang untuk mengembangkan diri, 
  4. kepercayaan, 
  5. kerjasama, 
  6. saling berbagi, 
  7. saling memotivasi, 
  8. saling mendengarkan, 
  9. saling berinteraksi secara positif, 
  10. saling menanamkan nilai-nilai moral, 
  11. saling mengingatkan dengan ketulusan hati, 
  12. saling menularkan antusiasme, 
  13. saling menggali potensi diri, 
  14. saling mengajari dengan kerendahan hati, 
  15. saling menginsiprasi, 
  16. saling menghormati perbedaan. 

Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.

Seorang guru yang professional, adalah guru yang mengabdikan hidupnya untuk menuangkan ilmu-ilmunya. Yang tak lari dari masalah, tapi menyelesaikannya. Hidupnya kokoh bagaikan akar pohon yang terus menembus kerasnya tanah. Demi mendapatkan makanan untuk dedaunan itu adalah anak didiknya. Saat daun iu menjadi sekuntum bunga, itulah saat anak didiknya dapat menunjukkan kemampuannya. Dan saat bunga itu tlah menjadi buah, itulah saat anak didiknya telah mencapai puncak prestasi dalam hidupnya. Kuatnya akar dalam mempertahankan berdirinya pohon itu saat diterpa angin seperti halnya kuatnya guru itu saat diterpa masalah dan cobaan dalam hidupnya. Pohon itu tetap berusaha berdiri tegak, sama halnya seperti guru yang tetap berdiri tegak untuk tetap mencurahkan ilmu pada murid-muridnya. Akar juga tak memikirkan dirinya sendiri, ia rela berkorban agar pohon tercukupi ilmu-Nya. Sosok seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, namun ia memikirkan bagaimana membuat anak didiknya menjadi sukses.

Berikut sepuluh ciri guru professional: 

  1. Selalu punya energi untuk siswanya. Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama. 
  2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran. Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas. 
  3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif. Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas. 
  4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik. Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas. 
  5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua. Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter. 
  6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya. Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka. 
  7. Pengetahuan tentang Kurikulum. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu. 
  8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan. Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif. 
  9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran. Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa. 
  10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa. Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya. 


2. Pemahaman Kompetensi Pedagogik dan Profesioal

Kompetensi pedagogik dijabarkan ke dalam lima (5) sub-kompetensi (Dir. PMPTK, 2007), yaitu: 

  1. Pemahaman terhadap peserta didik, yang mencakup indicator esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip- prinsip perkembangan kognitif dan kepribadian dan mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik. 
  2. Perancangan Pembelajaran, mencakup indikator esensial: memahami landasan kependidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih. 
  3. Pelaksanaan pembelajaran, mencakup Indikator esensial: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif. 
  4. Perancangan dan pelaksanaan evaluasi hasil belajar, mencakup Indikator esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi (assesment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum. 
  5. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi peserta didik. Kompetensi ini mencakup indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik 

Adapun kompetensi profesional (oleh ahli pendidikan disebut kompetensi akademik) menurut Dir. PMPTK mencakup tiga (3) subkompetensi, yaitu: 

  1. Penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, mencakup indikator esensial: penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologikeilmuannya. 
  2. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi, mencakup indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. 
  3. Menguasai struktur dan metode keilmuan, yang mencakup indicator esensial: menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi. 


3. Pandangan Tentang Guru yang Didambakan (Idola)

Untuk menjadi guru idola, cara yang paling mudah adalah dengan melakukan penelitian, karena boleh dibilang mengajar dan meneliti adalah sebuah kesatuan. Penelitian yang dimaksud adalah dengan mengadakan survei ringan kepada siswa yang yang kita ajari.

Jika kita mengajar TK atau SD maka bisa dilakukan dengan menanyakan langsung kepada mereka apa saja yang mereka sukai dari guru, karena pendekatan mengajar anak TK dan atau SD lebih berorientasi pada paedagogi yakni pendidikan anak. Boleh dibilang untuk menjadi guru idola anak TK dan SD membutuhkan sentuhan langsung. Berdasarkan pengalaman penulis sulit untuk menggantikan mengajar anak jika siswa sudah terikat hatinya dengan gurunya.

Berdasarkan survei dari 30 siswa SD/MI yang ditanyakan, guru idola anak SD adalah guru yang baik, yang selalu membantu siswa dalam belajar. Disamping itu guru idola anak SD adalah guru yang selalu mengajaknya bermain. Agar lebih mudah masuk ke dalam dunia anak SD dan menjadi idola mereka maka kita harus memahami hal-hal berikut :

Pertama Anak-anak SD/MI adalah kelompok pembelajar yang sedang memasuki usia emas (golden age). Mereka, menurut Piaget, memiliki tipologi kemampuan berpikir operasional konkret. Jadi pengajaran yang mereka harapkan adalah pengajaran yang dilakukan dengan berbagai informasi atau pengetahuan-pengetahuan yang konkret atau nyata. Jadi, jika pengetahuan yang akan Anda ajarkan adalah penegetahuan yang abstrak maka sebaiknya Anda segera merubahnya dalam bentuk yang konkret. Dengan demikian, anak-anak akan enjoy menikmati proses pengajaran yang Anda lakukan.

Kedua, yaitu anak-anak SD/MI sedang memasuki karakteristik perkembangan perilaku imitative. Maksudnya, anak-anak melakukan proses pengajaran dengan didasarkan dari aktivitas meniru. Menirukan apa yang terjadi disekelilingnya. Maka dari itu, jika Anda adalah seorang guru yang ingin menjadi idola bagi para murid Anda maka berikanlah dan menjadilah model/sosok teladan yang patut mereka tiru.

Ketiga, yaitu dunia bermain adalah karakter dari aktivitas yang paling disukai anak-anak. Maka dari itu, jika Anda ingin menjadi seorang guru idola Anda mesti mampu menyuguhkan aneka permainan yang mendidik dan atau menyajikan pengetahuan melalui media permainan. Dengan cara begitu, anak-anak mendapatkan kesenangan di kelas Anda. Pada akhirnya, mereka senantiasa akan menantikan saat-saat kegiatan belajar mengajar dengan Anda. Jika sudah demikian, Anda berarti sudah menjadi idola mereka.

Untuk anda yang mengajar SMP dan atau SMA atau mahasiswa sekalipun, boleh dibilang pendekatan mengajar yang dilakukan adalah dengan andragogi. Andragogi adalah istilah dalam pembelajaran orang dewasa. Dimana didalam andragogi, guru bertindak sebagai fasilitator dalam mengajar.

Banyak hal yang bisa dilakukan para guru untuk bisa diidolakan murid-muridnya. Berdasarkan survei kategori guru idola, yang respondennya siswa SMP dan siswa SMA kriterianya didasarkan pada kategori berikut ini..

Pertama, Jadilah guru yang selalu unik di mata murid. Misalnya, memberikan kondisi yang hidup dengan siswa, seperti humoris dan mengeluarkan lelucon yang gila (gak apa-apa, kalau ngelebay dikit), tapi yang mendidik ya. Karena para siswa ternyata menyukai guru yang humoris (45 persen).


Kedua, siswa itu kan identik dengan jiwa anak mudanya. Hmm, berarti guru diwajibkan dong, mengetahui apa-apa saja yang lagi disenangi murid-muridnya, bisa itu istilah atau gaya anak muda. Mungkin seperti, ucapan atau gaya bicaranya. Yang pastinya, nggak ada di kamus bahasa Indonesia. Karena para siswa maunya guru yang gaul atau yang tak ketinggalan zaman (23 persen).

Ketiga, guru itu juga harus bisa menanamkan sifat disiplin kepada anak muridnya. Iya nih. Penting banget. Kalu gak disiplin, ntar siswanya kecolongan untuk ngelakuin hal-hal yang dilarang oleh pihak sekolah.

Keempat, pastinya harus pinter dong. Gak pinter, nggak guru namanya.

Kelima (tambahan dari siswa), Bpk/ibu guru, jangan pelit kasih nilai dong.

Selain itu untuk bisa menjadi guru idola para guru harus menata diri. Memperbaiki hal-hal yang kurang tepat dilakukan oleh guru dan senantiasa melakukan apa yang disebut belajar sepanjang hayat. Tak ada guru yang langsung menjadi idola para siswa, meskipun guru tersebut berwajah ganteng dan cantik. Sebab ganteng dan dan cantik tidak menjadi jaminan guru itu menjadi guru idola. Guru idola bukan hanya guru yang digugu dan ditiru saja, tetapi tercermin dari tingkah lakunya yang selalu satu kata antara perkataan dan perbuatan. Mampu memberikan keteladanan kepada teman sejawat dan anak didiknya. Kreatif, tidak sombong, dan rendah hati kepada sesama. Gaya bahasanya biasa saja, tidak dibuat-dibuat seperti layaknya penyair kondang. Tetapi, bila ia bicara dan mengembangkan senyumnya membuat mereka yang mendengarnya terdiam dan mengatakan,”inilah guru idolaku”.


C. Kesimpulan

Dalam hidupnya, guru idola adalah guru yang senantiasa mengajarkan kepada peserta didiknya untuk hidup dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Dengan prinsip tangan di atas lebih mulia daripada tangan dibawah, membuat dirinya merasakan harus senantiasa memberi. Memberi tidak harus dengan sesuatu yang sifatnya materi, tetapi memberi dapat dilakukan dengan sesuatu yang sangat mudah. Sesuatu yang sangat mudah itu adalah ‘senyum seorang guru’. Bila guru tersenyum, maka anak didiknya akan menghampirinya dengan kedamaian hati. Namun, bila guru tak tersenyum, maka muridpun akan berlari, dan mengatakan dalam hatinya, “guruku tak lagi tersenyum”.

Beban hidup yang ditanggung oleh para guru, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya harus membuat para guru bersabar dan terus berdoa kepada Tuhan yang Maha Pemberi. Ketika guru sadar bahwa dirinya harus senantiasa menjadi motivator dalam hidupnya, maka guru idola akan mengatakan pada dirinya untuk selalu memberi dan memberi. Memberi sebanyak-banyaknya dan tak harap kembali. Bagai sang surya yang menyinari dunia. Hidupnya seperti matahari yang senantiasa menyinari dunia mulai dari pagi sampai petang menjelang. Ketika malam menghampiri, guru idola tak pernah lepas berdoa untuk selalu diberikan kekuatan oleh Tuhan agar mampu menggali ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang dan tiada henti.

Akhirnya, guru idola tentu akan menjadi harapan semua peserta didik. Harapan kita semua agar pendidikan ini tampil sesuai dengan apa yang kita cita-citakan. Guru idola harus menjadi cita-cita semua guru di sekolah agar dunia pendidikan kita kembali tersenyum. Oleh karena itu, untuk menjadi guru idola, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil, mulailah banyak memberi, dan mulailah menata diri sendiri untuk menjadi guru idola. Melalui Tata pikir, tata rasa, dan tata tindakan.




Oleh : Nurhadi, M.Pd

Dosen STAI Al-Qudwah Depok




DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. ---------, 2005.
Azwar, S. 2007. ... Martoyo. S. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia, UGM. BPFE. Yogyakarta
Zahara Idris, pengantar pendidikan Grasindo PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta 1992
Daryanto, belajar dan mengajar. Cv Yrama Widia, Bandung 2010
Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif, rineka cipta. Jakarta 2000.